“Tulisan yang lahir dari renungan panjang selama sebulan , dan inilah sepatah kata yang bisa ku ungkapkan dari renungan ku, Saya menulis bukan berarti saya sudah cukup kuat menghadapi setiap ujianNya, tetapi biarlah dengan tulisan yang terlahir dari sebuah rasa, mampu menguatkan hati ini tatkala ia berasa gundah dan goyah serta bisa menyentuh jiwa-jiwa yang membacanya juga…semoga kita terus kuat, terus tabah, terus tahan diuji, terus bersabar dalam ujian-ujianNya…In Syaa Allah” bismillah, kembali memulai kehidupan yang lebih baik kedepannya :”) Aamiin Allahumma Aamiin ~ Helnida Adriani Tahir☻♥ :
~ Ketika hati ini goyah, tak ada satupun yang bisa menyadarkan kita jika bukan kita sendiri yang menyadarinya
Ya, benar itu tepat sekali :”)
Ketika iman ini melemah , bukan tak sadar tapi bukan karena dengan sadar juga , kita merasa tetap benar, dan acuh tak acuh dengan segala nya :”)
Hhmmm, beberapa waktu ini, aku merenungi itu semua, astagfriullah :”( betapa jahat, tega diri ini sama semua org yg datang dengan bisikan nasehat indahnya namun malah ku terima dengan acuh tak acuh…
Diri ini mencoba untuk tenang, tatkala merenungi ini semua, apa inii yang disebut ujian iman ?! apa ini yang disebut futur ?! apa ini disebut tak istiqomah ?! berbagai pertanyaan muncul seketika aku tersadar, ujianNya datang bertandang menghampiri imanku yang melemah ini :”(
CintaNya datang tiba-tiba, menghulur dengan sapaan yang membuatku kehilangan kata-kata untuk membalas sapaan cintaNya.
Ujian tanda Allah cinta, tetapi kenapa huluran cintaNya pahit, tidak semanis yang kita pintakan? Tidak seperti apa yang kita inginkan?
Kita cuma hamba biasa, bukan malaikat.
Kita punyai rasa itu.
Rasa sedih, rasa kecewa, rasa hampa, rasa putus asa karena memang fitrah kita sebagai manusia dibekalkan rasa-rasa itu.
Allah swt telah anugerahkan rasa itu pada manusia. Yang tinggal cuma bagaimana untuk kita mengawal semua rasa itu.
Tidak salah kita menangis.
Menangis bukan tanda kita lemah. Menangis bukan tanda kita mengalah.
Menangis adalah tanda kita mengakui kekuasaanNya. Mengakui segala takdirNya. Mengakui kesalahan dan kekhilafan kita …
Antara hati ingin DI DIDIK MENERIMA atau TIDAK, kita perlukan tangisan itu. Untuk menenangkan hati yang gundah, untuk menenangkan emosi yang bergejolak gelisah.
Mungkin ada yang masih mampu tersenyum tatkala diuji.
Senyum atau tangis, semuanya adaptasi rasa yang terlahir ketika diuji.
Andai mampu tersenyum, senyumlah dengan penuh keikhlasan dalam kesabaran. Andai ingin menangis, tangislah dalam ratapan tangis itu dalam sujud kepadaNya.
Walau apapun ujian yang diberikan, cobalah untuk tabah. Cobalah untuk menjadi kuat, meskipun hati terasa amat rapuh dan goyah…
Firman Allah SWT: “(Allah) yang menciptakan kematian dan kehidupan (di atas dunia ini), buat menguji siapakah dalam kalangan kamu yang lebih baik amal perbuatannya, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun.” (al-Mulk: 2)
‘Subhanallah…Maha Suci-Mu Ya Allah…’
Hati kembali beristighfar.
Saya mencoba. Sentiasa ingin mencoba.
Bertenanglah duhai hati. Bertenanglah duhai jiwa.
Itulah yang sering saya bisikkan pada diri.
Di saat hati terasa amat goyah
Bahkan mendengar nasehat dari siapapun terkadang diri ini acuh tak acuh, merasa sangat menutup diri dan merasa diri baik baik saja, tapi ternyata secara tidak sengaja diri ini terjatuh :”( terhempaskan jauh, Maha suci Allah yang Maha baik justru di saat seperti ini DIA tidak begitu saja membiarkan hamba-NYA benar benar tersesat, DIA selalu mengirimkan seseorang yang dengan sabar nya menghadapi sikapku ini, meskipun sering kali aku me-respon acuh tak acuh padanya …
Merasa bersalah…
Hanya kata itu yang bisa ku ucapkan saat ini, entah kenapa aku se tega itu menyia nyia kan semua yang sangat memperhatikan dan khawatir dengan diriku…
Maafkan…
Aku memohon kepada –NYA agar tidak menggoyahkan pegangan ini padaNya lagi.
Walau apapun yang akan terjadi, aku tetap ingin sentiasa berpegang teguh pada ikatan ini.
Ikatan aqidah yang terpatri, bukan semudah-mudah untuk dilemahkan dengan bisikan-bisikan emosi.
Pertama, memang saya menangis kerana sedih. Sedih dengan dugaan yang datang itu, tidak mampu saya hadapi dengan hati yang tenang.
Kemudian saya menangis lagi. Kali kedua, bukan menangis kerana sedih lagi. Tetapi menangis kerana terharu.
Kerana tatkala diri bermuhasabah kembali, air mata keharuan yang mengalir kerana tersedar DIA sedang menujukkan rasa cintaNya pada diri ini.
Cuma diri yang ingin memilih mau bersabar atau tidak?
Adakah ingin menerima huluran cinta itu dengan hati yang memberontak?
Sedangkan DIA sedang menghulur cinta.
Ya. Cinta agungNya.
Coba lah tanyakan kembali, bahagia itu di mana sebenarnya? Bahagia yang hakiki itu ada di dalam jiwa.
Dekat dengan diri, sentuhlah dadamu sendiri, maka engkau akan merasakan betapa ia cukup dekat. Bahagia itu akan hadir bila kita bersyukur dan belajar menerima apa adanya.
mencoba menerima segala aturanNya. Maka kita sebenarnya sedang menyentuh cahaya bahagia..
Biarlah air mata yang jatuh itu moga dapat menghapuskan rasa gelisah di jiwa. Semoga air mata yang mengalir
Yang selayaknya untuk diuji dan diuji. Namun, ketahuilah sesungguhnya Allah itu Amat Adil.
Tidak akan diberikan ujian itu melainkan DIA Maha Tahu kita mampu memikulnya. Tidak akan ditimpakan ujian itu, melainkan DIA Maha Tahu kita perlukan ujian itu untuk kita terus menjadi hambaNya yang kuat. Kuat dari sudut iman dan ihsan.
Kerana setiap ujian yang hadir, adalah suatu rahmat. Tiada ujian yang buruk, melainkan semuanya adalah ketentuan yang terbaik dari Yang Esa.
Biarpun yang diuji itu nampak buruk, dan tersangat buruk pada pandangan mata lahir manusia, tetapi andai dilihat dari tembusan mata hati ternyata adalah hikmah dari yang Maha Kuasa.
Hikmah itu tidak akan nampak andai tidak dihayati. Hikmah itu tidak akan terlahir andai hati tidak dididik untuk menerima segala ketentuan dan bersyukur dengan pemberiannya.
Benar. Tidak semudah kata bicara. Tidak semudah ucapan yang dikatakan.
Rasa berat dan perih itu hanya akan dapat dirasa oleh orang yang merasa. Tetapi cobalah ‘menelan’ rasa itu dengan senyuman.
meskipun pahit, tetapi pasti ada manis yang akan terganti dari rasa pahit itu. Rasa manis dan nikmat itu akan datang di balik semua kepahitan.
Pelangi pasti akan muncul setelah hujan melanda. Begitu juga kehidupan ini pasti akan ada bahagia di sebalik semua duka…Yakinlah.!
“Kita akan diuji dan terus diuji, teruslah bersabar duhai pengejar cinta Ilahi
Makin Allah uji, makin Allah mencintai
Kata cinta kepadaNya, maka buktikanlah cinta itu dengan berteman pada setiap takdirNya”
Sahabat Muslimah Ungu
~HAT, 14 Januari 2016
LatePost☻♥






