Ketika Penulis Jatuh
Cinta...
Cinta adalah keyakinan,
seperti Ibrahim yang dibakar api, dan terus lanjutkan dzikir, hingga
terkisahlah mukjizat itu; api yang tak membakar
Cinta adalah kepercayaan,
seperti Hajar yang rela ditinggal di tengah gurun, cukuplah ia berucap, “Jika
ini kehendak Allah, maka Ia tidak akan menyia-nyiakan kami”
Cinta adalah kepatuhan,
seperti Ismail yang rela disembelih, lewati ujian keimanan yang begitu
beratnya, maka termasuklah ia hamba yang bersabar
Cinta adalah kesepahaman,
seperti Khadijah yang tak perlu bertanya panjang, cukup menyelimuti dan
memberikan kehangatan, setelah wahyu pertama kali diturunkan. “Allah tidak
akan menghinakanmu..”
Cinta adalah pengharapan,
layaknya Rasulullah yang tak rela penduduk Thaif diadzab dengan gunung yang
menimpa, seraya berujar, “Justru aku berharap, kelak akan ada generasi dari
sulbi mereka yang tidak akan menyekutukan Allah!”
Cinta adalah kebahagiaan,
seperti Aisyah dan Rasululullah yang berlomba lari, di suatu saat Aisyah yang
menang, di kala yang lain Rasulullah mengalahkan.
Cinta adalah kerelaan,
layaknya Salman yang memberikan mahar dan persiapan walimah, kepada Abu Dzar
yang ternyata lebih dipilih oleh wanita yang ia pinang
Cinta adalah keteguhan,
seperti Bilal yang bertahan dengan “Ahad!” meski cambuk dan
dera menyiksa diatas tanah panas yang melelehkan.
Cinta adalah ketenangan, saat
keduanya dalam gua, lalu Rasulullah berucap pada Abu Bakar, “Janganlah
bersedih, sebab Allah bersama kita”
Cinta adalah kebeningan, saat
Rasulullah wafat, Abu Bakar yang paling dicintainya yang pertama kali tersadar,
“Barangsiapa menyembah Muhammad maka sungguh Muhammad telah wafat.”
ucapnya, “Namun siapa yang menyembah Allah, maka sesungguhnya Allah
kekal!”
Cinta adalah kesadaran,
seperti isak Umar saat melihat harta melimpah di masa kepemimpinannya, “Jika
ini baik, mengapa tidak terjadi di zaman Rasulullah dan Abu Bakar?”
Cinta adalah penerimaan,
seperti Nailah yang belia, menjadikan Utsman yang telah berusia senja sebagai
pendampingnya, sebab “Masa mudamu telah kau habiskan bersama Rasulullah”
Cinta adalah pengorbanan,
seperti Ali yang sempat mengira Fatimah akan dinikahkan dengan Abu Bakar, “Aku
mengutamakan Abu Bakar atas diriku, aku utamakan Fatimah atas cintaku.”
Cinta adalah penjagaan,
seperti Fatimah yang menunggu saat yang tepat, dikala Ali telah halal baginya,“Dulu
aku pernah cintai lelaki sebelum menikahimu.” ucapnya, “Dialah
kau.”
Cinta adalah karena Allah,
saat kau berucap dengan mata berkaca, “Bahkan mungkin, aku lebih mencintai
kalian diatas cinta pada saudara kandungku sendiri”
Cinta adalah kesucian, tidak
dititipkan kecuali pada hati yang suci, dikokohkan dengan ikatan yang suci,
telah tertakdir, tepat pada waktunya. Tidak pernah terlalu cepat, pun tidak
akan datang terlambat.
Ketika penulis jatuh cinta,
maka ia tidak lagi butuh syair dan kata-kata indah. Sebab telah dapat ia buat
sendiri dengan jemarinya.
Saat penulis jatuh cinta, ia
pastikan tertulis dengan fokus yang tepat; “Aku ingin jatuh cinta
berkali-kali, terus seperti ini, dan tak akan pernah berubah PADA-MU SAJA YA
ALLAH <3 .”

Tidak ada komentar:
Posting Komentar